Skip to content
Home » Mengenal Prolonged Grief Disorder dan Duka yang Tidak Diakui (Disenfranchised Grief)

Mengenal Prolonged Grief Disorder dan Duka yang Tidak Diakui (Disenfranchised Grief)

Oleh: dr. Gusti Rai Wiguna, Sp.KJ | Website: www.psikiaterbali.com

Sejak tahun 2022, frasa “terlalu lama berduka” tidak lagi sekadar menjadi ruang perdebatan emosional, melainkan resmi masuk sebagai kriteria diagnosis medis. Fenomena ini sering kali menimbulkan penolakan publik: Apakah pantas jika rasa rindu dan kesedihan atas kehilangan dilabeli sebagai sebuah gangguan jiwa?

Kritik tersebut sangat sah dan masih menjadi perdebatan hangat di kalangan klinisi. Namun, memahami batasan antara duka yang wajar dan kondisi klinis sangat penting agar mereka yang terjebak dalam rasa sakit berlarut-larut mendapatkan pertolongan yang tepat.

1. Apa Itu Prolonged Grief Disorder?

Kondisi berduka berkepanjangan secara resmi dimasukkan ke dalam ICD-11 (WHO, 2018) dan DSM-5-TR (APA, 2022)dengan nama Prolonged Grief Disorder (PGD).

PGD bukan sekadar “masih merasa sedih” akibat ditinggal oleh sosok yang dicintai. Kriteria klinis PGD ditandai dengan:

  • Rasa rindu yang ekstrem (intense yearning) atau kerinduan yang mendominasi pikiran hampir setiap hari.
  • Berlangsung lebih dari 12 bulan setelah peristiwa kehilangan pada orang dewasa (atau 6 bulan pada anak-anak/remaja).
  • Menyebabkan hambatan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.

2. 9 dari 10 Orang Berduka Tidak Mengalami PGD

Diagnosis medis ini dibuat bukan untuk mengkategorikan kesedihan sebagai penyakit. Sebuah meta-analisis terhadap 14 studi populasi memberikan gambaran angka yang jelas:

Penelitian / SumberData SampelTemuan Utama
Meta-Analisis Populasi (Lundorff M, dkk., 2017)14 Studi PopulasiHanya 9,8% orang dewasa yang berduka mencapai tingkat gejala yang bermakna secara klinis.
Implikasi Klinis90% Individu Lainnya9 dari 10 orang mengalami duka yang wajar, meskipun duka tersebut terasa sangat berat, lama, dan menyakitkan.

Artinya, duka yang berat tetaplah respons emosional yang normal. Diagnosis PGD hadir semata-mata untuk memberi “pintu masuk” layanan kesehatan bagi 1 dari 10 orang yang memang membutuhkan intervensi khusus.

3. Disenfranchised Grief: Duka yang Tidak Diberi Ruang Sosial

Selain duka atas kematian anggota keluarga, ada kategori kehilangan yang sering kali tidak diakui oleh lingkungan sekitar—dikenal dengan istilah Disenfranchised Grief (Doka KJ, 1989). Ini adalah jenis duka yang tidak diberi ruang sosial untuk ditangisi.

Contoh kehilangan yang sering kali diabaikan:

  • Peristiwa keguguran atau kehilangan kehamilan dini.
  • Perceraian atau perpisahan hubungan.
  • Kematian hewan peliharaan.
  • Kehilangan mantan pasangan atau sosok dengan hubungan yang rumit.

Fakta Risiko Keguguran: Studi oleh Farren J, dkk. (Am J Obstet Gynecol, 2020) menunjukkan bahwa 29% wanita memenuhi kriteria stres pascatrauma (PTSD) pada bulan pertama setelah kehilangan kehamilan dini, dan 18% masih memenuhinya 9 bulan kemudian—sering kali tanpa satu pun sesi konsultasi penanganan (follow-up).

4. Keberhasilan Terapi Khusus Duka

Kabar baiknya, penetapan kriteria diagnosis medis membuka jalan bagi ditemukannya metode terapi yang jauh lebih presisi.

Sebuah uji acak terkontrol (RCT) yang dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry (Shear MK, dkk., 2014) membandingkan terapi khusus duka (grief-focused therapy) dengan psikoterapi standar:

  • Tingkat Respons Terapi Khusus Duka: 70,5%
  • Tingkat Respons Psikoterapi Standar: 32,0%

Hasil ini membuktikan bahwa efektivitas terapi khusus duka mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding terapi biasa.

5. Cara Membedakan Duka Wajar dan Butuh Bantuan

Merindukan seseorang selama bertahun-tahun bukanlah sebuah gangguan medis.

Hal yang membedakan duka wajar dari kondisi yang butuh bantuan klinis bukanlah seberapa lama Anda merindukannya, melainkan apakah hidup dan fungsi Anda berhenti berjalan akibat kehilangan tersebut.

6. Apa yang Harus Dikatakan kepada Orang yang Berduka?

Salah satu respons yang paling tidak membantu saat mendengar seseorang meratapi kehilangannya adalah: “Sudah lama berlalu, kok kamu masih belum bisa move on?”

Cobalah untuk mengganti kalimat tersebut dengan dukungan empatis:

“Ceritakan tentang dirinya…”

Kalimat sederhana ini memberi ruang aman bagi duka apa pun—termasuk duka-duka tersirat yang tidak pernah sempat dikirimkan karangan bunga oleh lingkungan sosial.

Kesimpulan

Setiap duka memiliki jalannya sendiri. Namun, jika rasa kehilangan membuat Anda atau orang di sekitar Anda merasa terisolasi dan kehilangan fungsi hidup secara total, berkonsultasilah dengan profesional kesehatan jiwa untuk mendapatkan panduan pemulihan yang tepat.

Artikel ini disusun berdasarkan materi edukasi klinis dari dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, SpKJ(K), MM dan ditujukan untuk edukasi umum, bukan pengganti konsultasi atau pemeriksaan medis langsung.

Siap untuk Evaluasi yang Komprehensif?

Di BMHC dan Klinik SMC, kami berkomitmen pada psikiatri berbasis bukti yang mengutamakan keamanan dan akurasi bagi pasien. Mari melangkah lebih jauh dari sekadar label dan dapatkan dukungan yang benar-benar Anda butuhkan.

Jadwalkan konsultasi Anda hari ini: 📍 Bali Mental Health Clinic (BMHC) 📍 Klinik SMC

Apakah Anda memiliki pertanyaan mengenai proses diagnosis? Atau merasa kewalahan dengan informasi yang bertentangan tentang ADHD di internet? Hubungi tim kami di BMHC atau Klinik SMC—kami siap membantu Anda menavigasi perjalanan ini.