Skip to content
Home » Efek Samping Psikoterapi yang Jarang Dibicarakan: Mengapa Terapi Tidak Selalu Terasa Nyaman?

Efek Samping Psikoterapi yang Jarang Dibicarakan: Mengapa Terapi Tidak Selalu Terasa Nyaman?

Oleh: dr. Gusti Rai Wiguna, Sp.KJ | Website: www.psikiaterbali.com

Ketika mendengar kata “efek samping”, kita biasanya langsung membayangkan daftar reaksi klinis pada kemasan obat. Namun, tahukah Anda bahwa psikoterapi—seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT)—juga memiliki efek samping?

Psikoterapi adalah salah satu intervensi kesehatan mental paling efektif yang kita miliki saat ini. Meski demikian, menganggap proses terapi selalu berjalan mulus tanpa risiko adalah sebuah pemahaman yang keliru. Mengenali dampak yang mungkin timbul sejak awal justru merupakan kunci keberhasilan konseling.

1. Fakta Riset: Angka Efek Samping dalam Psikoterapi

Banyak orang mengira jika kondisi emosionalnya memburuk saat terapi, berarti terapinya “gagal” atau terapisnya tidak kompeten. Padahal, riset menunjukkan bahwa efek samping dapat terjadi bahkan pada sesi terapi yang dilakukan dengan benar (properly conducted treatment).

Penelitian / SumberJumlah SampelTemuan Utama
Survei Nasional Inggris (Crawford MJ, dkk., 2016)14.587 pasien terapi psikologis5,2% pasien melaporkan mengalami efek buruk yang menetap (long-term negative effects).
Studi Efek Samping CBT (Schermuly-Haupt ML, dkk., 2018)100 terapis CBT & pasiennya43% pasien mengalami efek samping, 21% dalam kategori berat/sangat berat, dan 5% menetap.

Efek samping yang paling sering muncul meliputi:

  • Distres emosional yang memburuk sementara.
  • Lonjakan gejala kecemasan atau kesedihan.
  • Ketegangan dalam hubungan keluarga atau sosial akibat perubahan pola komunikasi.

2. Kenapa Efek Samping Psikoterapi Jarang Terlihat?

Salah satu temuan paling menarik dari studi Schermuly-Haupt (2018) adalah aspek kesadaran klinisi. Sebelum dilakukan wawancara terstruktur, 74% terapis menjawab bahwa pasien mereka baik-baik saja dan tidak mengalami efek samping.

Efek samping tersebut baru teridentifikasi setelah terapis mengevaluasinya melalui daftar periksa (checklist) khusus. Hal ini membuktikan bahwa efek samping terapi bukan disengaja untuk disembunyikan, melainkan sering kali tidak terlihatkarena jarang ditanyakan secara eksplisit.

“Yang tidak pernah ditanyakan, tidak akan pernah tercatat.”

3. Niat Baik Saja Tidak Cukup: Pelajaran dari Debriefing Traumatik

Sejarah intervensi psikologi menunjukkan betapa pentingnya verifikasi berbasis data. Dahulu, metode single-session debriefing (konseling langsung satu sesi tepat setelah peristiwa traumatik) dianggap pasti membantu.

Namun, Tinjauan Cochrane terhadap 15 uji klinis (Rose S, dkk., 2002) menemukan bahwa metode tersebut tidak terbukti mencegah Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Bahkan, salah satu uji klinis menunjukkan risiko PTSD justru meningkat pada kelompok yang mendapatkan debriefing tersebut. Akibat temuan berbasis bukti ini, praktik tersebut akhirnya dihentikan.

4. Edukasi Awal (Informed Consent) Adalah Kunci Pencegahan

Kabar baiknya, efek negatif psikoterapi sangat bisa dicegah. Data menunjukkan bahwa pasien yang diberikan penjelasan yang memadai mengenai proses dan risiko terapi sebelum sesi dimulai memiliki risiko lebih kecil untuk mengalami efek buruk yang menetap.

Ingat: Psikoterapi itu sendiri tidak berbahaya. Yang berisiko adalah menjalani terapi tanpa penjelasan dan ekspektasi yang transparan.

5. Tiga Pertanyaan Penting Sebelum Sesi Pertama

Untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terapi yang aman dan terukur, ajukan 3 pertanyaan ini kepada terapis Anda sebelum memulai sesi:

  1. “Terapi jenis apa yang akan saya jalani dan bagaimana mekanismenya?”
  2. “Bagian mana dari proses ini yang mungkin membuat saya merasa lebih berat di awal?”
  3. “Bagaimana cara kita mengukur dan mengetahui jika proses terapi ini tidak berjalan efektif?”

Terapis yang profesional akan menyambut baik pertanyaan-pertanyaan ini untuk membangun kerja sama klinis yang sehat.

Kesimpulan

Jika Anda sedang menjalani psikoterapi dan merasa kondisi emosional sempat memburuk, jangan berhenti secara diam-diam. Komunikasikan hal tersebut secara terbuka pada sesi berikutnya, karena mengurai rasa tidak nyaman itu sendiri merupakan bagian integral dari proses pemulihan.

Artikel ini disusun berdasarkan materi edukasi klinis dari dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, SpKJ(K), MM dan ditujukan untuk edukasi umum, bukan pengganti konsultasi atau pemeriksaan medis langsung.

Siap untuk Evaluasi yang Komprehensif?

Di BMHC dan Klinik SMC, kami berkomitmen pada psikiatri berbasis bukti yang mengutamakan keamanan dan akurasi bagi pasien. Mari melangkah lebih jauh dari sekadar label dan dapatkan dukungan yang benar-benar Anda butuhkan.

Jadwalkan konsultasi Anda hari ini: 📍 Bali Mental Health Clinic (BMHC) 📍 Klinik SMC

Apakah Anda memiliki pertanyaan mengenai proses diagnosis? Atau merasa kewalahan dengan informasi yang bertentangan tentang ADHD di internet? Hubungi tim kami di BMHC atau Klinik SMC—kami siap membantu Anda menavigasi perjalanan ini.