Oleh: dr. Gusti Rai Wiguna, Sp.KJ | Website: www.psikiaterbali.com

Pernahkah Anda merasa bahwa pasangan Anda memiliki “gangguan kepribadian” hanya setelah menonton satu video pendek di TikTok atau Instagram?
Di era digital saat ini, media sosial memang memudahkan kita mengakses informasi psikologi. Namun, ada sisi gelap yang sering tidak kita sadari: fenomena melabeli pasangan dengan istilah psikologis yang didapat dari scrollingtanpa henti.
Apakah hubungan Anda benar-benar toxic, atau justru feed media sosial Andalah yang sedang menciptakan masalah? Mari kita bedah lebih dalam.
Ketika Algoritma Membentuk Persepsi Anda
Penting untuk diingat bahwa algoritma media sosial dirancang agar Anda terus menonton. Tujuannya adalah keterlibatan (engagement), bukan untuk menjamin kesehatan hubungan Anda.
Konten yang viral sering kali merupakan konten yang paling dramatis atau provokatif, bukan konten yang paling akurat secara klinis. Ketika Anda terus terpapar konten yang membahas label-label negatif, Anda tanpa sadar mulai memandang pasangan Anda melalui “kacamata” yang bias.
Psikologi yang Berubah Menjadi “Stiker”
Saat ini, kita sering melihat penyederhanaan berlebihan terhadap istilah psikologi:
- Satu pertengkaran dianggap sebagai “Gaslighting”.
- Satu sikap egois langsung dicap sebagai “NPD” (Narcissistic Personality Disorder).
- Satu kali lupa atau melakukan kesalahan dianggap sebagai “Red flag”.
Psikologi kini seolah berubah menjadi stiker yang ditempelkan sembarangan. Padahal, perilaku manusia jauh lebih kompleks daripada istilah yang ditampilkan dalam video berdurasi 60 detik.
Jebakan Confirmation Bias dalam Hubungan
Jika setiap perilaku pasangan diartikan sesuai dengan konten yang Anda tonton, kemungkinan besar yang sedang bekerja bukanlah intuisi Anda, melainkan confirmation bias. Ini adalah kecenderungan otak untuk mencari dan mempercayai informasi yang hanya mendukung prasangka awal kita.
Ketika Anda yakin pasangan Anda “bermasalah” karena konten yang Anda tonton, Anda akan cenderung mengabaikan aspek positif dan hanya fokus pada perilaku yang mendukung “diagnosis” Anda sendiri.
Mengubah Pertanyaan: Dari Label ke Pemahaman
Hubungan yang sehat tidak dibangun dengan mencari-cari diagnosis atau label untuk pasangan. Sebaliknya, hubungan yang kuat dibangun dengan rasa ingin tahu yang sehat.
Coba ganti pertanyaan Anda:
Bertanyalah: “Pola apa yang sedang kami bangun bersama?” atau “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara kami?”
Alih-alih bertanya: “Gangguan apa yang dia punya?”