Skip to content
Home » Ketika Melawan Bullying Menjadi Bullying Baru

Ketika Melawan Bullying Menjadi Bullying Baru

Refleksi psikiatri tentang hujatan publik, empati, dan keadilan digital.

Fenomena

Di era media sosial, keadilan sering terasa instan. Seseorang berbuat salah publik pun bereaksi. Namun, ketika reaksi berubah menjadi hujatan massal…

Apakah kita masih sedang memperjuangkan keadilan?

atau sekadar membalas luka dengan luka baru?

Apa itu Cyberbullying?

Cyberbullying bukan hanya serangan pada korban “tak bersalah.” Siapa pun bisa menjadi target bahkan mantan pelaku.

Ciri-cirinya:

  • Serangan verbal, penghinaan, atau ejekan publik.
  • Penyebaran data pribadi (doxxing).
  • Meme atau postingan mempermalukan seseorang.
  • Dilakukan berulang kali dan bersifat masif.

Mengapa Ini Tetap Berbahaya

“Kita hanya ingin memberi pelajaran.”

Namun di balik niat itu, sering tersembunyi dorongan balas dendam sosial.

Secara psikologis, hujatan publik menimbulkan:

  • Rasa malu ekstrem dan disosiasi.
  • Gangguan cemas & depresi berat.
  • Risiko bunuh diri akibat tekanan sosial digital.

Fenomena Moral Outrage

“Aku bukan pembully, aku hanya ikut menegakkan keadilan.”

Fenomena ini disebut moral outrage displacement ketika kemarahan moral berubah menjadi pelampiasan kolektif. Yang terjadi bukan pemulihan, melainkan kekerasan digital berulang dalam bungkus moralitas.

Bedakan: Accountability vs Bullying Baru

  • Akuntabilitas: fokus pada prilaku, bukan menghancurkan pribadi.
  • Akuntabilitas: bertujuan memperbaiki sistem
  • Akuntabilitas: ada ruang maaf dan refleksi
  • cyberbullyng: fokus menyerang identitas.
  • Cyberbullying: bertujuan mempermalukan
  • Cuberbullying: tidak memberi ruang pemulihan

Jalan Sehat: Restorative Digital Culture

🌱 Keadilan tidak harus keras.

🌱 Pemulihan lebih penting dari penghancuran.

🌱 Empati bukan berarti membenarkan, tapi memberi ruang belajar.

“Kita bisa memutus rantai kekerasan digital dengan menolak ikut menghujat dan memilih berdialog.”

Melawan bullying tidak berarti menjadi pembully baru.Keadilan tanpa empati hanyalah kekerasan berganti baju.

Psikoedukasi oleh dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, SpKJ(K)

Bali Mental Health Clinic | www.psikiaterbali.com